SIKAP DAN PERILAKU
Psikolog
sosiaal tidak bisa membaca sikap secara langsung. Kita mengukur sikap yang
diekspresikan dan ekspresi tergantung pada pengaruh luar. Suatu pengukuran
sikap yang lebih baru dan lebih luas digunakan, implicct association test
(IAT), menggunakan waktu reaksi untuk mengukur seberapa cepat seseorang
mengasosiasikan konsep (Greenwald, & dkk, 2002, 2003). Sikap implisit dan
eksplisit dapat secara bersamaan memprediksikan perilaku lebih baik
dibandingkan jika mereka berdiri sendiri (Spence & Townsend, 2007). Salah
satu area di dalam otak (amigdala, pusat bagi persepsi akan ancaman) aktif
ketika secara otomatis mengevaluasi sti,uli sosial.
Sikap
umum seseorang terhadap agama merupakan prediktor yang buruk, namun sikap
religius dapat cukup baik dalam memprediksikan jumlah total perilaku religius
dalam rentang waktu tertentu (Fishbien & Ajzen, 1974; Kahle & Berman,
1979). Setelah penelitian ini ditemukan prinsip agregasi, yaitu efek dari
sebuah sikap yang menjadi lebih jelaas ketika dilihat pada perilaku rata-rata
dari seseorang dibandingkan ketika kita memutuskan untuk mengisolasi mereka
untuk tindakan tertentu.
Dalam
teorinya Ajzen bersama Fishbien dalam “teori perilaku terencana”, hal yang
lebih baik memprediksikan perilaku adalah mengetahui perilaku yang diniatkan
oleh seseorang, dan self efficiency serta control yang merekaa persepsikan. Untuk
mengubah kebiasaan melalui persuaisi, sebaiknya kita memengaruhi sikap
seseorang terhadap hal-hal spesifik. Dua kondisi sikap yang akan memprediksikan
perilaku, (1) ketika meminimalisasi pengaruh hal lain terhadap pernyataan sikap
dan perilaku; (2) sikap secara spesifik relevan dengan perilaku yang
diobservasi. Terdapat kondisi lainnya yaitu sebuah sikap memprediksikan
perilaku lebih baik ketika sikap tersebut cukup kuat. Ketika sikap kuat maka
perilaku kita akan banyak yang bersifat otomatis. Tanpa mencerminkan apa yang
sebenarnya kita lakukan dengan melakukan apa yang biasa kita lakukan. Karna hal
tersebut bersifat adaptif. Jika kita memikirkaan tentang sikap tersebut maka
sikap kita akan menjadi lebih kuat. Penelitian Batson mengenai keunafikan
moral, menemukan bahwa cermin membuat seseorang berperilaku sejalan dengan
sikap moral. Terkadang kita bertahan untuk apa yang kita precayai, namun juga
benar bahwa kita menjadi percaya pada apa yang kitaa pertahankan.
Perilaku
merupakan haasil dari individu yang bersangkutan dan situasi yang
mengelilinginya, dan penelitian tentang penjara sepertinya telah menarik para
suarelawan yang rentan terhadap agresivitas (McFarlan & Carnaham, 2009).
Seringkali orang menyesuaikan apa yang mereka katakan untuk meyenangkan para
pendengar. Lebih cepat mengatakan berita baik daripada berita buruk, dan mereka
menyesuaikan peesan mereka dengan posisi dari para pendengarnya ( Manis, &
dkk, 1974; Tesser, & dkk., 1972;Tetlock, 1983). Orang cenderung
menyesuaikan pesan-pesan dengan pendengar mereka, dan dengan melakukan hal ini
mereka mempercayai apa yang mereka sampaikan. Untuk menjaga prinsip “sikap
menjadi perilaku”, peneltian menunjukkan bahwa jika anda ingin seseorang
melakukan suatu hal besar untuk anda, maka suatu strategi yang efektif adalah
dengan cara meminta mereka untuk melakukan hal dari yang terkecil terlebih
dahulu. Dikenal sebagai fenomena foot in the door. Ketika seseorang melibatkan
dirinya dalam perilaku publik dan memersepsikan tindakan terebut sebagai
tindakannya sendiri, maka mereka akan menjadi lebih percaya terhadap apa yang
telah mereka lakukan. Cialdini dan koleganya (1978) berreksperimen
mengeksplorasi suatu variasi dari fenomena kaki pintu engan mencobanya
bersamaan dengan teknik low-ball.
Terkadang
kejahatan adalah suatu komitmen yang diingkari secara bertahap. Setelah
melakukan suatu kebohongan kecil, orang tersebut akan melakukan kebohongan lagi
yang lebih besar. Cara tindakan jahat memengaruhi sikap adalah fakta
paradoksional bahwa kita cenderung tidak hanya melukai mereka yang tidak kita
sukai, namun juga tidak menyukai mereka yang kita lukai. Sifat dan tindakan
saling melengkapi hingga terkadang sampai ke titik kebodohan moral. Semakin
sering seseorang menykiti orzng lain dan menyesuaikan sikap mereka, maka akan
semakin mudah dan sering pula orang
tersebut menyakiti orang lainnya. Hati nurani terkorosi. Perilaku positf
memperkuat rasa suka pada seseorang. jika anda ingin mencintai seseorang lebih besar
maka tunjukkanlah seakan-akan anda benar-benar mencintainya teramat besar.
Perilaku
dalam masyarakat dapat memengaruhi siakp rasial dalam masyarakat tersebut.
Banyak orang yang mengalami perasaan yang tidak nyaman karena adanya
kontradiksi antara kata-kata dan apa yang mereka rasakan. Ritual-ritual
politis-penghormatan kepada bendera yang dilakukan anak-anak sekolah,
menyanyikan lagu kebangsaan-memanfaatkan konformitas publik untuk membangun
sikap patriotisme.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar