Sabtu, 21 Mei 2016

BIOGRAFI ABRAHAM MASLOW



Biografi Abraham Maslow
            Abraham Harold (Abe) Maslow lahir di Manhattan, Newyork pada 1 April 1908. Ia adalah anak tertua dari tujuh bersaudara dari pasangan amuel Maslow dan Rose Schilosky Maslow. Maslow mempunyai masa kecil yang kurang bahagia, kehidupannya menderita, kesepian dan dipenuhi dengan rasa malu, rendah diri dan depresi  yang kuat.
            Maslow tidak begitu dekat dengan orangtuanya. akan tetapi kepada ibunya, Maslow menyimpan rasa benci dan marah yang sangat besar. Tidak hanya pada masa kecilnya, sampai Ia menjalani Psikoanalisis kebenciannya tak pernah hilang hingga kematian ibunya. Ia menolak untuk menghadiri pemakaman ibunya tersebut.
            Dalam buku hariannya, Maslow menuliskan tentang kebenciannya terhadap ibunya. Dia menceritakan bahwa, ia benar-benar sangat membenci ibunya. Tidak hanya penampilan fisik yang tidak ia sukai, tetapi nilai-nilai dan pandangan yang yang dianut ibunya. Keegoisan, kepelitan, tidak ada cinta untuk orang lain, bahkan bagi uami dan anak-anaknya dan ketidakpedulian terhadap keluarganya. Orang yang tidak sependapat dengan ibunya dianggap telah melakukan kesalahan. Maslow mengetahui tentang akibatnya jika tidak adda cinta Ibu, tetapi filosofi kehidupan dan semua penelitian serta teori sudah berakar dari kebencian terhadap sesuatu yang ibunya yakini.
            Edward Hoffman melaporkan tentang kekejaman Rosse Maslow. Ketika itu Maslow menemukan dua ekor kucing yang terlantar di dekat rumahnya. Karena rasa kasihan, Maslow membawa kucing-kucing tersebut pulang ke rumah dan menempatkannya di rumah bagian bawah tanah dan ia memberinya susu. Ketika Rose tahu apa yang dilakukan Maslow membawa anak-anak kucing tersebut, Rose langsung marah dan menendang kucing-kucing tersebut ke tembok hingga mati.
            Rose adalah seorang wanita yang taat beragama dan sering menakut-nakuti tentang adanya hukuman dari Tuhan terhadap Maslow. Ketika kecil, Maslow mencoba untuk melanggar ancaman ibunya dan melakukan sesuatu yang dilarang. Ketika tidak ada hukuman yang datang, Maslow berfikir bahwa apa yang dibicarakan ibunya itu tidak benar dan ia mulai membenci ibunya dan tidak percaya terhadap agama sehingga menjadi ateis.
            Maslow mempunyai bakat intelektual, sehingga ia masuk sekolah di Boys High School di Brooklyn. Setelah lulus ia memilih untuk melanjutkan studinya di City College of  New York mengambil konsentrasi hukum. Karena dia tidak suka dengan mata kuliah tentang hukum, ia pindah ke Cornell University mengambil konsentrasi psikologi. Setelah menjalani satu semestrer di Cornell, maslow kembali lagi ke City College dengan tujuan untuk mendekati sepupunya, Bertha untuk menikahinya. Satu semester sebelum pernikahannya, Maslow mendaftarkan diri di University of Wisconsin dan memperoleh gelar sarjana filosofi. Karena ketrtarikannya terhadap pandangan Behaviorisme dari John B. Watson, ia mengambil mata kuliah psikologi untuk mengejar gelar doktor (Ph.D) dan ia dapatkan pada tahun 1934.
            Pada tahun 1951 Maslow mendapat posisi sebagai kepala depaartemen psikologi di Brandeis University. Walupun memperoleh ketenaran pada tahun 1960-an, Maslow menjadi semakin tidak bersemangat karena beberapa mahasiswanya tidak menyukai metode pembelajarannyayang lebih ke penerapan ilmu daripada penedekatan intelektual dan ilmiah.
            Maslow menerima banyak penghargaan semasa hidupnya, termasuk keikutsertaannya pada pemilihan presiden American Psychology Association untuk masa jabatan tahun 1967-1968. Ketika tahun 1967, Maslow terkena serangan jantung parah yang ternyata telah dialaminya selama 20 tahun yang tidak terdiagnosa. Pada saat ia meninggal, ia adalah seorang yang terkenal tidak hanya di bidang psikologi saja, tetapi juga diantara oraang-orang terpelajar pada umumnya terutama di bidang bisnis, maenejemen, marketing, teologi, konseling, pendidikan, keperawatan, dan lain-lainnya.
            Sebulan sebelum kematiannya, Maslow menulis: “saya tidak mempunyai mental pemberani. Keberanian saya adalah cara untuk mengatasi segala bentuk kegugupan, kesopanan, kelembutan, sifat pemalu-dan hal ini selalu membuat saya lebih cepat lelah, tertekan, khawatir dan sulit tidur” (hal.1307)

SIKAP DAN PERILAKU


SIKAP DAN PERILAKU
Psikolog sosiaal tidak bisa membaca sikap secara langsung. Kita mengukur sikap yang diekspresikan dan ekspresi tergantung pada pengaruh luar. Suatu pengukuran sikap yang lebih baru dan lebih luas digunakan, implicct association test (IAT), menggunakan waktu reaksi untuk mengukur seberapa cepat seseorang mengasosiasikan konsep (Greenwald, & dkk, 2002, 2003). Sikap implisit dan eksplisit dapat secara bersamaan memprediksikan perilaku lebih baik dibandingkan jika mereka berdiri sendiri (Spence & Townsend, 2007). Salah satu area di dalam otak (amigdala, pusat bagi persepsi akan ancaman) aktif ketika secara otomatis mengevaluasi sti,uli sosial.
Sikap umum seseorang terhadap agama merupakan prediktor yang buruk, namun sikap religius dapat cukup baik dalam memprediksikan jumlah total perilaku religius dalam rentang waktu tertentu (Fishbien & Ajzen, 1974; Kahle & Berman, 1979). Setelah penelitian ini ditemukan prinsip agregasi, yaitu efek dari sebuah sikap yang menjadi lebih jelaas ketika dilihat pada perilaku rata-rata dari seseorang dibandingkan ketika kita memutuskan untuk mengisolasi mereka untuk tindakan tertentu.
Dalam teorinya Ajzen bersama Fishbien dalam “teori perilaku terencana”, hal yang lebih baik memprediksikan perilaku adalah mengetahui perilaku yang diniatkan oleh seseorang, dan self efficiency serta control yang merekaa persepsikan. Untuk mengubah kebiasaan melalui persuaisi, sebaiknya kita memengaruhi sikap seseorang terhadap hal-hal spesifik. Dua kondisi sikap yang akan memprediksikan perilaku, (1) ketika meminimalisasi pengaruh hal lain terhadap pernyataan sikap dan perilaku; (2) sikap secara spesifik relevan dengan perilaku yang diobservasi. Terdapat kondisi lainnya yaitu sebuah sikap memprediksikan perilaku lebih baik ketika sikap tersebut cukup kuat. Ketika sikap kuat maka perilaku kita akan banyak yang bersifat otomatis. Tanpa mencerminkan apa yang sebenarnya kita lakukan dengan melakukan apa yang biasa kita lakukan. Karna hal tersebut bersifat adaptif. Jika kita memikirkaan tentang sikap tersebut maka sikap kita akan menjadi lebih kuat. Penelitian Batson mengenai keunafikan moral, menemukan bahwa cermin membuat seseorang berperilaku sejalan dengan sikap moral. Terkadang kita bertahan untuk apa yang kita precayai, namun juga benar bahwa kita menjadi percaya pada apa yang kitaa pertahankan.
Perilaku merupakan haasil dari individu yang bersangkutan dan situasi yang mengelilinginya, dan penelitian tentang penjara sepertinya telah menarik para suarelawan yang rentan terhadap agresivitas (McFarlan & Carnaham, 2009). Seringkali orang menyesuaikan apa yang mereka katakan untuk meyenangkan para pendengar. Lebih cepat mengatakan berita baik daripada berita buruk, dan mereka menyesuaikan peesan mereka dengan posisi dari para pendengarnya ( Manis, & dkk, 1974; Tesser, & dkk., 1972;Tetlock, 1983). Orang cenderung menyesuaikan pesan-pesan dengan pendengar mereka, dan dengan melakukan hal ini mereka mempercayai apa yang mereka sampaikan. Untuk menjaga prinsip “sikap menjadi perilaku”, peneltian menunjukkan bahwa jika anda ingin seseorang melakukan suatu hal besar untuk anda, maka suatu strategi yang efektif adalah dengan cara meminta mereka untuk melakukan hal dari yang terkecil terlebih dahulu. Dikenal sebagai fenomena foot in the door. Ketika seseorang melibatkan dirinya dalam perilaku publik dan memersepsikan tindakan terebut sebagai tindakannya sendiri, maka mereka akan menjadi lebih percaya terhadap apa yang telah mereka lakukan. Cialdini dan koleganya (1978) berreksperimen mengeksplorasi suatu variasi dari fenomena kaki pintu engan mencobanya bersamaan dengan teknik low-ball.
Terkadang kejahatan adalah suatu komitmen yang diingkari secara bertahap. Setelah melakukan suatu kebohongan kecil, orang tersebut akan melakukan kebohongan lagi yang lebih besar. Cara tindakan jahat memengaruhi sikap adalah fakta paradoksional bahwa kita cenderung tidak hanya melukai mereka yang tidak kita sukai, namun juga tidak menyukai mereka yang kita lukai. Sifat dan tindakan saling melengkapi hingga terkadang sampai ke titik kebodohan moral. Semakin sering seseorang menykiti orzng lain dan menyesuaikan sikap mereka, maka akan semakin mudah dan  sering pula orang tersebut menyakiti orang lainnya. Hati nurani terkorosi. Perilaku positf memperkuat rasa suka pada seseorang. jika anda ingin mencintai seseorang lebih besar maka tunjukkanlah seakan-akan anda benar-benar mencintainya teramat besar.
Perilaku dalam masyarakat dapat memengaruhi siakp rasial dalam masyarakat tersebut. Banyak orang yang mengalami perasaan yang tidak nyaman karena adanya kontradiksi antara kata-kata dan apa yang mereka rasakan. Ritual-ritual politis-penghormatan kepada bendera yang dilakukan anak-anak sekolah, menyanyikan lagu kebangsaan-memanfaatkan konformitas publik untuk membangun sikap patriotisme.